Rabu, 01 September 2021, 19:26 WIB

76Th, Pendidikan Merdeka?

76Th, Pendidikan Merdeka?

Parwainstitute.id – Maryam Qonita, Ketua Biro Pendidikan GM DPN Gelora Indonesia, meyakini bahwa pendidikan yang merdeka itu seperti dua sisi mata uang, kemerdekaan dan pendidikan itu memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Itu diuangkapkan dalam acara Bioskop Politik (BIOTIK) yang bertema “76th, Pendidikan Merdeka?” pada Kamis, 26 Agustus 2021.

 

“Jadi pendidikan itu adalah kreditor yang sangat efektif agar kita bisa melawan penindasan, agar kita bisa melawan penjajajahan, dan kemerdekaan itu adalah faktor yang sangat penting agar kita bisa meraih keberhasilan dalam pendidikan,” ungkapnya.

 

Satu kemajuan di pendidikan Indonesia, lanjutnya, karena Pak Nadiem (Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, ingin mengusung satu program yang memerdekakan belajar para siswa. Kata Maryam, itu juga sesuai dengan misinya Pak Ki Hajar Dewantara.

 

“Maksudnya pendidikan itu harus memanusiakan manusia, semua orang pasti punya cara yang berbeda-beda dalam aktualisasi diri mereka dan nggak bisa semua siswa jadi merah atau semua siswa jadi hijau, setiap siswa punya warnanya masing-masing. Pak Nadiem ini mengusung sistem yang memerdekakan belajar para siswa sehingga mereka tuh bisa berekspresi, bisa kreatif dan lain sebagainya. Ini satu kemajuan, karena itu program Merdeka Belajar,” lugas lulusan S2 New York University itu.

 

Namun dilain sisi, Maryam memberikan kritik pada LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), yang menurutnya kita itu harus bisa mendapatkan dana hibah penelitian kalau kita bisa melakukan presentasi penelitian di International Conference bergengsi dan terindeks scopus.

 

“Pada akhirnya internasional conference yang hadir itu siapa sih, kan sedikit, cuma sedikit orang-orang itu aja dan pada akhirnya ilmu hanya berputar di orang-orang yang sangat sedikit sementara pada lingkup yang lebih besar Guru atau dosen itu hanya mengajar dari literasi yang bisa mereka akses,” tegasnya.

 

“Saya mungkin membawa campaign tentang pentingnya pendidikan yang terbuka, Pendidikan yang gratis, pada akhirnya sistem pendidikan itu struktural sifatnya dari atas, dari orang-orang yang bekerja di bidang pemerintahan. Itulah kenapa saya mau masuk ke politik karena ingin mengubah sistem pendidikan dari atas. Jadi jalan itu lebih efisien,” tandasnya.

 

Diforum yang sama, Direktur Eksuktif Youth Society Tri Rahayu mengkritik ketidakadilan dalam sistem beasiswa karena banyak orang yang seharusnya lebih diprioritaskan dalam mendapatkan beasiswa tetapi malah yang selama ini banyak memperoleh beasiswa yang tersedia berasal dari kalangan yang mampu secara finansial.

 

“Terus terang di 2021 ini, saya masih merasakan bahwa pendidikan itu menjadi sebuah komoditas. Meskipun yes, kita mengakui kalau kita niat dan aktif berusaha memang banyak beasiswa tapi semudah apa sih beasiswa itu diakses?, kita tidak menutup mata bahwa banyak ko’ orang-orang yang sebetulnya mampu tapi dia mendapatkan beasiswa ya, entah itu Beasiswa LPDP entah itu Beasiswa Unggulan atau mungkin Baznas atau masih banyak program-program yang lain,” tegasnya.

 

“Banyak ko sebetulnya dia itu mampu membayar biaya poendidikan tapi dia mendapatkan beasiswa, nah sementara disisi lain kita mau masuk sekolah negeri aja itu tetap kita harus mengeluarkan uang yang menurut saya itu lumayan, tetap kita butuh kerja keras untuk dapat menikmati, mendapat ilmu dan pengalaman,” lanjutnya.

 

Rahayu juga menekankan bahwa dalam sistem pendidikan, yang harus ditingkatkan adalah sumber daya manusia, dalam hal ini kualitas tenaga pendidik dan yang selanjutnya adalah infrastruktur. Itu dua hal yang paling penting. Menurutnya, pendidikan itu modal jangka Panjang apalagi untuk perempuan yang akan memiliki tugas dan tanggungjawab dalam keluarga.

 

“Pendidikan itu investasi jangka panjang, investasi masa depan. Terutama bagi perempuan, bagi saya, pendidikan itu bukan ajang untuk gengsi-gengsian. Kalau kita pernah mendengar “ketika kita mengajar seorang laki-laki, itu berarti mengajar satu orang, tapi kalau ketika kita mengajar seorang perempuan, itu berarti kita mengajar sebuah keluarga,” pungkasnya.

Share