Jumat, 18 Juni 2021, 15:31 WIB

5 Parpol Sepakat Milenial Harus Ambil Peran di Pemilu 2024

5 Parpol Sepakat Milenial Harus Ambil Peran di Pemilu 2024

 

Parwainstitute.id – Party Watch (PARWA) Institute kembali menyelenggarakan program Bioskop Politik (BIOTIK) dengan mengusung tema “Tantangan dan Peluang G-Milenial di Pemilu 2024”. Dari 5 refresentasi Partai Politik (Parpol) yang hadir, semuanya sepakat bahwa generasi milenial perlu terjun ke dunia politik, karena melalui jalur politik, milenial bisa berbuat banyak dalam memperbaiki dan menentukan arah kehidupan rakyat dan negara.

Zulfikar Arse Sadikin, Anggota DPR RI Komisi II Fraksi Golkar, menegaskan politik itu penting dan salah satu aspek kehidupan, tetapi menentukan hampir semua aspek kehidupan. Ia yakin dengan memaksimalkan peran Parpol, Parpol dapat menentukan semua aspek kehidupan dan adanya keterlibatan milenial yang juga sebagai penentu banyak aspek kehidupan kedepannya.

“Karena sama-sama menentukan, G-milenial yang nantinya jumlahnya mencapai kisaran 60 % dan Parpol harus ada simbosis mutualis, apalagi sama-sama menginginkan kehidupan politik kita menjadi lebih baik. Yang harus memulai adalah Parpol yang harus mampu melakukan transformasi politik sehingga politik yang tidak baik bisa berubah menjadi baik. Setiap Paprol harus melakukan kesadaran baru untuk melakukan rekruitmen kepada generasi muda yang masih segar,” tutur Zulfikar yang juga Ketua Organisasi DPP Golkar (17/06/21).

Prasetyo Hadi (Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra) mengungkapkan hakikat berpolitik adalah kehendak untuk merubah keadaan dan memperjuangkan sesuatu untuk kepentingan banyak orang dan bangsa. Ia melanjutkan jika kita berbicara politik khususnya di Gerindra, bukan hanya mengikuti kontestasi politik secara prosedural, tetapi lahirnya Gerindra karena melihat banyak tokoh-tokoh yang ada di Indonesia yang menyimpang dari kepentingan negara.

“Melalui jalur politik, aturan-aturan ditentukan oleh politik termasuk kesehatan, kedokteran dan sebagainya sehingga politik itu jangan dijauhi atau dihindari. Kewajiban Parpol yaitu terus menerus melakukan pendidikan politik khususnya terhadap generasi milenial dengan berbagai macam cara, apalagi hari ini sudah era 4.0 yang dipenuhi oleh medsos dan lain sebagainya. Cara-cara yang dipakai harus menyesuikan perkembangan jaman,” ujarnya.

“Sistem politik kita ini juga sangat mahal, menurut saya harus didorong supaya ada diskursus mengenai sistem politik yang ideal untuk menurunkan biaya politik. Ini yang menjadi problem, apalagi dihubungkan dengan G-milenial atau Alpha. Hal ini yang menjadi faktor generasi muda mengurungkan niat masuk Paprol. Di Gerindra, Prabowo memberikan ruang dengan melibatkan generasi milenial di struktur Gerindra, termasuk adanya GMD (Generasi Masa Depan) Gerindra sebagai wadah generasi milenial,” imbuh Pras yang juga Ketua Bidang OKK DPP Gerindra.

Disamping itu, Ketua DPP PSI Tsamara Amani menekankan generasi milenial bisa menduduki posisi strategis di Parpol, asalakan mereka memiliki kapasitas dan integritas yang baik. Di PSI, katanya, rata-rata anak muda termasuk dirinya gabung ke Parpol bukan hanya gimik tetapi punya kompoten dan sudah dilakukan pada saat Pemilu 2019 dan Pilkada 2020, yang salah satu targetnya, yaitu pendidikan gratis bagi anak muda.

“PSI pengen membangun kuliah gratis, karena mereka yang tidak merasakan pendidikan karena mereka bekerja untuk membantu keluarga mereka. Mereka menghadapi struktur-struktur yang tidak memungkinkan bagi mereka. Itu yang menjadi persoalan anak muda Indonesia menuju 2024. Kita harus mendorong diskusi-diskusi anak muda bisa menjadi prioritas menuju 2024 agar persoalan-persoalan anak muda kedepan bisa terselesaikan. Ini tantangan kita dalam mendorong perbaikan-perbaikan, misal upah layak dan pendidikan gratis, dan mengisi diskusi kita dengan kebijakan konkrit.” Lugasnya.

Hudzaifah Muhibullah, Ketua Bidang Generasi Muda DPN Gelora Indonesia, menekankan bahwa saat ini yang harus dilakukan bangsa Indonesia termasuk generasi muda yaitu mencari sumber kegelisahan baru untuk menguras dan menghabiskan energi. Di Gelora sendiri sebagai partai baru, lanjutnya, per hari ini telah menyelesaikan 100 % DPW, DPD 100% DAN 80 % di DPC, dan jumlah kader sudah 200.000-an lebih dan terus bertambah, sekitar 60% berasal dari anak muda. Alasan anak muda bergabung ke Gelora, lanjutnya, karena mereka menerima narasi yang dibawa Gelora.

“Anis Matta dan Fahri Hamzah seringa menyampaikan bahwa Gelora hadir untuk membawa Indonesia masuk menjadi 5 kekuatan global dunia. Ini bukan halu atau mimpi yang tidak terealisasi, tetapi ini bisa diwujudkan, bahkan Indonesia masuk menjadi pemimpin global Islam. Narasi ini banyak diterima oleh anak muda di Indonesia sehingga masuk ke Gelora. Anak muda di Gelora, seperti pada saat diskusi, setara dengan senior-senior di Gelora, bahkan anak muda dilibatkan dalam langkah-langkah strategis, seperti diajak bertemu dengan Presiden,” ujarnya.

Dilanjut Ahmad Baidowi, Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PPP, menyampaikan tantangan milenial di 2024 sebenarnya sudah dihadapi pada Pemilu 2019 kemarin dan itu bisa menjadi dasar kedepannya di Pemilu 2024. Data dari KPU, lanjutnya, sebanyak 53 % G-milenial pada 2017 dan terus tumbuh dari tahun ke tahun, dan percaya Parpol cara masing-masing dalam memaksimalkan peran generasi muda.

“Saya yakin semua Parpol memiliki strategi dalam memkasimalkan peran milenial, semisal di PPP. Saya di PPP yang dipercayakan untuk menggaet milenial. Tampilnya beberapa anak muda di parlemen, hampir anak-anak muda memiliki peran strategis dari partainya masing-masing. Kesempatan itu sudah diberikan ke generasi muda termasuk di PPP. Jika bukan kita yang tidak mau mengambil posisi strategis, jangan salahkan generasi senior yang mendudukinya. Senior-senior di partai memperhatikan regenerasi, jika ada senior yang yang menghambat generasi muda tunggu saja waktu kematiannya,” pungkas Baidowi yang juga Ketua Umum GMPI PPP

 

 

Share